GARUDA DI TIMUR PULAU DEWATA

Pada bulan Februari hingga Maret 2014, saya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan oleh Universitas Udayana. Sesuai dengan pilihan pribadi, saya memilih Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem Provinsi Bali sebagai lokasi KKN. KKN yang dilakukan selama 1 bulan ini menjadi sesuatu yang sangat berkesan bagi saya karena KKN merupakan kegiatan yang dapat melatih keaktifan mahasiswa di masyarakat. Sebelum mengakhiri KKN pada tanggal 17 maret 2014, saya dan teman-teman KKN berencana berkunjung sekaligus sembahyang di Pura Lempuyang yang berada di Gunung Lempuyang, Karangasem mengingat teman-teman saya mayoritas beragama Hindu.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan berangkat ke Pura Lempuyang pada 11 maret 2014. Kami berangkat menuju Pura pukul 6.30 wita agar tidak terlalu sore sampai puncak. Setibanya disana, saya sangat terkesima dengan pura tersebut karena terletak diketinggian dan jika kita memandang ke arah barat terpampang sebuah gunung suci yang disakralkan yakni Gunung Agung. Gunung ini sangat disakralkan oleh umat Hindu yang ada di Bali sehingga akses menuju pura terakhir yakni Pura Luhur Lempuyang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak sembarang orang yang bisa naik ke gunung ini selain untuk ibadah dan wisata religius. Saya yang baru pertama menginjakkan kaki di gunung ini sangat bersemangat berjalan menuju puncak. Satu demi satu anak tangga saya lalui ditengah lebatnya hutan dengan sejuknya udara diketinggian. Setelah sekitar 40 menit berjalan kaki, akhirnya saya dan teman-teman tiba di pura madya. Saat sampai pura madya saya menyempatkan diri mengabadikan moment dilokasi tersebut.

IMG_8100

Foto diambil di halaman pura madya lempuyang

Sembari saya berfoto-foto, teman-teman saya yang melakukan persiapan untuk sembahyang di pura tersebut. Saat teman-teman saya sembahyang, saya memutuskan untuk mengamati langit sekitar mengingat pada bulan tersebut besar kemungkinan menemukan burung migrasi bird of prey atau yang biasanya dikenal dengan raptor (burung pemangsa). Kurang lebih 30 menit saya mengamati langit Lempuyang tidak ada penampakan dari burung migran. Hingga pukul 09.54 wita ketika saya melihat langit, terpampang 2 ekor burung elang yang sedang melakukan soaring. Saat mengamati awalnya saya kira adalah raptor migran. Setelah saya cermati ternyata tidak tampak ciri-ciri burung migran yang biasanya saya lihat. Kemudian untuk memperjelas identifikasi saya ambil foto menggunakan kamera yang saya bawa dengan lensa tele seadanya (300 mm). Sehingga tampak sebagai berikut yang ternyata sang Garuda, yakni Elang Jawa (Nizaetus bartelsi).

IMG_8083

IMG_8094

Foto diambil hari Selasa, 11 Maret 2014 pukul 09.54 wita dari Pura Madya, Gunung Lempuyang

Sesaat setelah pertemuan tersebut, teman-teman saya telah selesai sembahyang sehingga kami melanjutkan perjalanan ke pura terakhir dan setelah itu kami pun pulang ke posko kami. Sepanjang perjalanan setelah melihat kedua elang tersebut tersirat pertanyaan dalam benak saya, apakah elang tersebut benar elang jawa atau elang jenis lain yang dekat dengan keluarga elang jawa? Semoga bisa melakukan ekspedisi lanjutan untuk lebih meyakinkan. Tunggu  cerita selanjutnya.

Salam Lestari…!!!

Field Trip Sukamade TN. Meru Betiri

Sore hari setelah ujian pada tanggal 14 Juni 2013, saya dan teman saya bergegas untuk berangkat ke Sukamade. Sukamade adalah merupakan salah satu pantai yang cukup dikenal yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Sukamade cukup dikenal karena dipantai tersebut terdapat pusat konservasi penyu. Hari itu cukup cerah dan kami pun dengan segera berangkat. Kami berangkat menggunakan sepeda motor dari kota Denpasar menuju Sukamade. Rute perjalanan kami adalah Denpasar-Gilimanuk dengan waktu 2,5 jam, Gilimanuk-Ketapang menggunakan ferry penyebrangan selama 1 jam, Ketapang menuju pesanggaran selama 2 jam, dan Pesanggaran-Sukamade kami tempuh selama 2 jam. Perjalanan yang kami lakukan lumayan melelahkan terutama rute Pesanggaran-Sukamade karena jalannya yang cukup terjal dan berbatu serta harus melewati sungai dengan menggunakan rakit karena daerah tersebut sempat banjir sehingga jembatan sekitar putus, untungnya saat itu tidak ada hujan sehingga memperingan langkah kami untuk menuju sukamade.

 

 

 Setelah sampai kami beristirahat sejenak untuk melepas penat setelah perjalanan cukup panjang. Sambil menikmati indahnya hutan dengan beraneka ragam hewan yang ada didalamnya serta bercengkrama dengan petugas di Pusat Konservasi Penyu yang sedang bertugas disana. Setelah beristirahat dari sore hingga malam hari, tepat pukul 20.00 WIB kami diajak untuk patroli penyu di pantai Sukamade. Jam tersebut dipilih karena penyu-penyu sudah mulai naik ke daratan pantai untuk  bertelur. Jarak dari pos ke pantai berkisar 700 meter yang harus ditempuh dengan berjalan kaki dengan penerangan lampu senter seadanya. Setelah sampai ternyata benar penyu sudah mulai ada yang bertelur. Sebelum bertelur penyu harus mencari tempat yang tepat untuk dirinya oleh sebab itu kita sering menemukan lebih dari satu lubang. Hal ini bertujuan untuk mencari tempat yang cocok dan membuat lubang kamuflase untuk mengelabui predator. Setelah mendapatkan daerah yangg cocok maka penyu akan membuat lubang untuk badannya, membuat lubang untuk menaruh telurnya kemudian bertelur dan menutup lubangnya kembali, ini memakan waktu kurang lebih 3 jam hingga selesai proses peneluran. Saat penyu beraktifitas membuat sarang kita (manusia) tidak boleh mendekat karena jenis penyu sensitif terhadap manusia. Kita boleh mendekat jika telur dari dalam tubuhnya sudah mulai dikeluarkan, jika tidak penyu akan kembali kelaut dan tidak jadi bertelur. Disaat penyu sudah membuat sarang kami pun mendekat untuk segera melihat jenis penyu yang bertelur dan sudah ada tagging (penanda) atau belum sambil membiarkan penyu bertelur. Meskipun bisa mendekat, kita tidak boleh menyentuh penyu karena bisa menghambat proses peneluran dikarenakan penyu yang sangat sensitif. Penyu yang bertelur sekarang merupakan jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas) dengan banyak telur 113 butir. Selama proses peneluran berlangsung petugas dengan hati-hati mengambil telur penyu yang masih ada dalam lubang dan tanpa menyentuh penyu sambil menghitung berapa butir telur yang dikeluarkan. Pemindahan (relokasi) telur ini dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan telur dari bahaya predator, karena di Sukamade sangat banyak babi hutan yang menjadi predator alami.

 

Setelah penyu bertelur, pengukuran carapace pun dilakukan karena kebetulan penyu yang satu ini belum memiliki tagging. Pengukuran dilakukan pada carapace. Meliputi panjang dan lebar carapace, dengan hasil panjang 96 cm dan lebarnya 86 cm kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tagging.

Setelah pengukuran dan pemasangan tagging penyu dibiarkan kembali ke laut dan telur pun dimasukkan kedalam karung untuk dibawa ke pos.

 

Setelah di bawa ke pos, telur tersebut didiamkan hingga besok pagi. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali telur yang di bawa tadi malam ditanam ke dalam lokasi penetasan (hatchery). Untuk didiamkan agar telur bisa menetas dengan sempurna.

Setelah menetas penyu didiamkan selama 1 minggu di kolam ini bertujuan agar cadangan makanan pada bagian plastron (dada) bisa menutup. Pada kesempatan ini saya dan teman saya berkesempatan untuk melepas tukik (penyu muda/setelah menetas).

Tidak terasa 3 hari sudah kami berada di Sukamade. Pada tanggal 17 Juli 2013, kami pun bergegas pulang. Sepanjang perjalanan teringat betapa sedihnya melihat penyu yang bertelur dengan sangat susah payah sementara masih ada oknum-oknum yang masih memburu penyu. Mengingat kemungkinan dari 1000 tukik yang bisa kelaut hanya 1 ekor yang akan datang untuk bertelur kembali. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dan saya berharap suatu saat penyu-penyu itu dapat berkembang dengan nyaman tanpa harus ada yang mengganggu.

Sekian…

Tukik penyu : http://www.youtube.com/watch?v=eN8FQ5DQvQU&feature=youtu.be

#SaveSeaTurtle

Salam Lestari…!!!